RAHASIA SUKSES BUDIDAYA LELE DITENGAH PANDEMI

Siapa yang tidak mengenal ikan lele? Ikan air tawar dengan tubuh licin ini merupakan salah satu ikan yang paling dikenal masyarakat dan sering dikonsumsi sebagai lauk pendamping nasi. Tingginya tingkat konsumsi ikan lele menyebabkan banyak orang mulai melakukan budidaya ikan berkumis ini. Ikan lele relatif mudah dibudidayakan, khususnya di daerah dengan iklim yang hangat. Lele dapat dibudidaya di kolam, tangki, ataupun sungai kecil yang dibendung.


Budidaya ikan lele memang cukup menggiurkan. Mengapa demikian? Yang pertama, permintaan akan ikan lele meningkat dari tahun ke tahun. Lalu, ikan ini dapat dibudidaya di tempat yang relatif terbatas, jika tidak memiliki lahan untuk membuat kolam, masyarakat dapat menggunakan tangki, drum, kolam kecil buatan, atau terpal. Dan karena permintaannya cukup tinggi, maka pemasarannya juga mudah. Modal yang dibutuhkan pun tidak besar. Tidak mengherankan masyarakat berbondong-bondong membudidayakan ikan ini. Bahkan menurut Ditjen Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi Lele nasional tahun 2018 mengalami peningkatan sebesar 88,4% jika dibadingkan tahun 2014 yang hanya mencapai 679.379 ton.


Budidaya ikan lele menjadi salah satu opsi tepat ditengah pandemi COVID-19. Karena termasuk jenis usaha yang bisa tetap eksis tanpa terdampak pandemi. Jika ditekuni dengan serius, budidaya lele bisa memberikan penghasilan yang menjanjikan. Ikan lele dikenal sebagai ikan yang tahan banting dan dapat hidup dalam banyak kondisi. Akan tetapi, bukan berarti ikan ini bebas penyakit ataupun bebas hama. Dengan lingkungan yang buruk, tentu akan membawa dampak negatif bagi lele serta dapat meningkatkan tingkat kematian ikan air tawar ini. Pemberian pakan yang salah atau kondisi air yang buruk sangat mempengaruhi perkembangan ikan lele.


Kondisi air yang tidak bagus bisa memicu penyakit pada lele. Kondisi tersebut biasanya disebabkan oleh sirkulasi air yang tidak baik ataupun pemberian pakan yang kurang tepat. Salah satu pertanda kondisi air tercemar adalah warnanya akan berubah menjadi merah kehitam-hitaman dan berbau tidak sedap. Warna ini biasanya berasal dari pakan yang diberikan secara berlebihan. Memberi makan lele tidak sekadar menebarkan pelet lele di kolam. Semua ada takarannya.
Terlalu banyak memberi pakan dapat menyebabkan penumpukan kotoran serta penumpukan sisa pakan pada dasar kolam. Penumpukan yang bercampur dengan amoniak ini menimbulkan racun dan berakibat munculnya bakteri-bakteri penyakit. Maka tidak heran jika kematian lele bisa terjadi secara massal dan tiba-tiba. Kematian lele tersebut tentunya akan membawa kerugian yang besar bagi peternak lele. Terlebih jika lele sudah berukuran besar dan siap dipanen.


Hanya mengganti air kolam lele secara rutin saja tidaklah cukup. Karena mengganti air tidak dapat menghilangkan bakteri maupun zat-zat beracun lainnya. Terdapat beberapa cara untuk mengembalikan kondisi air pada kolam lele, yaitu dengan cara pemberian makan yang tepat serta pemberian probiotik Gromaxx RB RED. Gromaxx RB RED merupakan bakteri probiotik yang dapat mengontrol kualitas air dengan mengurangi kadar gas-gas berbahaya atau senyawa toksik seperti H2S, amoniak, dan nitrit yang dihasilkan dari sisa pakan atau kotoran lele. Gromaxx RB RED juga mampu mengurangi bau tak sedap pada air kolam.
Masih khawatir budidaya lele tidak berhasil? Jangan ragu lagi dan gunakan Gromaxx RB RED.